Dan Buddha berkata :

“Tanah ini milik saya” – itulah kata-kata seorang bodoh yang tidak mengerti bahkan dirinya bukanlah miliknya sendiri.

Engkau tidak pernah memiliki sesuatu
Engkau hanya memegangnya sebentar.
Kalau engku tidak dapat melepaskannya, engkau terbelenggu olehnya.

Apa saja hartamu
harta itu harus kaupegang dengan tanganmu
seperti engkau mengenggam air.

Genggamlah erat-erat
dan harta itu lepas.

Akulah itu sebagai milikmu
dan engkau mencemarkannya
Lepaskanlah
dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya.

Kepada seseorang yang selama bertahun-tahun mempelajari
hukum agamanya, Sang Guru berkata, “Cinta merupakan kunci
untuk hidup baik, bukan agama atau hukum.”

Kemudian ia menceritakan ini.

Ada dua siswa sekolah minggu yang bosan dengan pelajaran
agama. Yang satu mengusulkan untuk membolos saja.

“Bolos?… Tetapi ayah kita akan menangkap kita dan memukul
kita.”

“Kita balas memukul!”

“Apa? Memukul ayah? Apa kamu sudah gila? Apakah kamu lupa
bahwa Allah memerintahkan untuk menghormati ayah dan ibu
kita?”

“Benar … Nah, kalau begitu, kamu memukul ayahku dan aku
memukul ayahmu.”

Seorang imam duduk di depan meja dekat jendela menyiapkan khotbah tentang Penyelenggaran Tuhan, ketika ia mendengar suara seperti ledakan. Segera ia melihat orang-orang lalu-lalang, berlari-lari dalam kepanikan, dan mengetahui kalau bendungan telah meledak, sungai meluap dan rakyat sedang diungsikan.

Ia melihat kalau air kian meninggi di jalanan. Walaupun ia merasa kesulitan untuk menekan kepanikannya yang mencengkramnya, ia tetap berkata: “Disini aku sedang menyiapkan khotbah tentang Penyelengaraan Tuhan, dan aku dapat kesempatan untuk mempraktekkan khotbahku. Aku tidak akan lari seperti yang lainnya. Aku akan tetap tinggal disini dan percaya akan penyelengaraan ilahi yang akan menyelamatkanku.”

Ketika air sudah setinggi jendela, perahu penuh orang lewat di depan jendelanya. “Naiklah pastor,” teriak mereka.

“Ah tidak nak,” kata pastor penuh percaya diri. “Aku percaya Penyelenggaraan Tuhan akan menyelamatkanku.”

Pastor konsisten dengan kepercayaannya itu. Ia naik ke atap.

Ketika air telah setinggi atap, sejumlah orang dalam perahu yang lewat mendesak pastor untuk naik. Dan sekali lagi, dengan yakinnya, ia menolak. Kali ini ia naik lagi ke puncak lonceng gereja. Ketika air terus saja naik hingga sebatas lututnya, seorang petugas dengan perahu motor dikirim untuk menyelamatkannya.

“Terimakasih Saudaraku…..” katanya dengan senyum tenang. “Aku percaya kepada penyelamatan Tuhan. Ia tidak akan meninggalkanku.”

Demikianlah, hingga pastor tenggelam. Ketika ia naik ke sorga, yang pertama-tama ia lakukan adalah menyampaikan protesnya kepada Tuhan. “Aku percaya kepada-Mu ya Tuhan. Tapi mengapa Engkau tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkanku.”

“Ah ….”, seru Tuhan, “Bukankah Aku telah mengirimimu perahu sampai tiga kali?”